Entri Populer

Selasa, 08 Januari 2013

Efek Tayangan Televisi Terhadap Anak-Anak


Bab I. Pendahuluan

A.     Latar Belakang

Media massa memiliki peran yang penting dalam kehidupan masyarakat. Fungsi media adalah memberikan informasi, menghibur, serta mendidik. Media tradisional adalah radio, media cetak (koran, majalah, buku) dan televise. Pada makalah ini, kita akan membahas mengenai televise. Televise adalah media audio visual, dimana gabungan dari fungsi radio yaitu audio (mendengar) dan fungsi koran, majalah, buku yaitu visual (membaca,melihat). Televisi sebagai salah satu media massa yang memberikan banyak pengaruh bagi khalayak. Seperti teori “agenda setting”, dimana media memang tak menentukan apa yang ada di benak khalayak, tapi media menentukan isu-isu apa saja yang dianggap penting di benak khalayak.[1]
Televisi adalah salah satu media massa audio visual yang berfungsi menghibur, menginformasi dan mendidik khalayak atau penonton. Penonton dianggap pasif karena hanya menerima konten yang disajikan di televisi. Termasuk anak-anak, mereka hanya menonton, menyerap dan memprakterkan hal yang ada di televise. Televise sebagai guru nomor tiga setelah orangtua dan guru. Banyak hal yang ditampilkan di televise. Televise seperti jendela, kita hanya perlu meluangkan waktu untuk duduk santai sambil menikmati makanan ringan dan minum. Dengan duduk di depan televise kita bisa menjelajah ke luar negeri hal yang tak bisa kita lakukan mengingat finansial yang mahal. Kita tidak dipungut biaya pada saat menonoton televise lokal, kecuali televise berbayar.
Televisi adalah salah satu media massa audio visual yang berfungsi menghibur, menginformasi dan mendidik khalayak atau penonton. Penonton dianggap pasif karena hanya menerima konten yang disajikan di televisi. Termasuk anak-anak, mereka hanya menonton, menyerap dan memprakterkan hal yang ada di televisi. Televise sebagai guru nomor tiga setelah orangtua dan guru. Banyak hal yang ditampilkan di televisi. Televisi seperti jendela, kita hanya perlu meluangkan waktu untuk duduk santai sambil menikmati makanan ringan dan minum. Dengan duduk di depan televisi kita bisa menjelajah ke luar negeri hal yang tak bisa kita lakukan mengingat finansial yang mahal. Kita tidak dipungut biaya pada saat menonoton televisi lokal, kecuali televise berbayar. Iklan di televise membuat anak-anak menjadi konsumtif dengan cara membujuk orangtua mereka. Acara kekerasan di tayangan televise sangat berdampak terhadap anak-anak mengingat pertumbuhan mereka masih rentan dan mereka belajar dari lingkungan sekitar. Apa yang mereka lihat dan dengar baik atau buruk akan menjadi acuan untuk tindakan mereka

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa manfaat dari televisi?
2.      Apa efek dari televisi?
3.      Bagaimana efek tayangan televisi sebagai pendidikan terhadap anak?
4.      Bagaimana efek interaksi sikap pasif anak terhadap tayangan televisi?
5.      Bagaimana anak menjadi konsumen televisi?

C.     Tujuan

Tujuan makalah ini adalah mengetahui manfaat dan efek televis, efek tayangan televisi sebagai pendidikan dan pengajaran terhadap anak-anak, efek interaksi pasif anak terhadap tayangan televisi dan anak menjadi konsumen televisi.



Bab II.  Efek Tayangan Televisi Terhadap Anak-Anak

A.     Manfaat dan Dampak Televisi

Televisi adalah salah satu media massa yang bersifat audio visual. Manfaat televisi bagi anak adalah
1.      Membantu memahami dunia sekitar. Anak-anak akan tertolong dalam memenuhi keingintahuan mereka tentang segala sesuatu yang ada di sekitar kehidupan mereka.
2.      Membantu proses belajar baca tulis dan melek visual. Televise menyajikan beragam program acara dan iklan visual yang dapat mempermudah anak untuk mengenal dan menguasai huruf.
3.      Memperluas wawasan/membukaan cakrawala. Televise menyajikan beragam kompleks dimana orangtua diminta untuk memantau dan membantu mereka menjelaskan hal tersebut.
4.      Memperkaya pengalaman hidup. Anak-anak bisa mengetahui kehidupan senang dan penderitaan orang lain.
5.      Menunjang pelajaran sekolah terutama dalam pengetahuan umum. Perlunya bimbingan orangtua untuk memilih informasi yang baik dan bagus untuk anak-anak mereka.
6.      Memberikan sambungan dengan dunia global. [2]
Dampak televisi yaitu :
1.      Kurang dapat membedakan khalayan dengan kenyataan. Dengan kemampuan berpikir yang masih amat sederhana, dapat memaklumi jika anak-anak cenderung menanggap apa saja yang tampil di layar televise adalah sesuatu hal yang nyata.
2.      Konsumtif.
3.      Peniruan perbuatan kekerasan. Acara yang menampilkan kekerasan seperti smack down, kartun naruto, sinchan akan berdampak kepada anak-anak.

B.     Kekerasan di Televisi

Televisi membantu anak muda masuk ke mainstream masyarakat dengan menunjukkan perilaku dan norma di dalam masyarakat. Pembelajaran observasional adalah ketika anak-anak mempelajari perilaku yang menyimpang dari media tersebut. di California, dua remaja berumur 13 tahun, menunggu kedatangan seoran ayah dari kawan mereka di rumahnya sendiri lalu menyerangnya. Mereka memukulinya dengan kayu bakar, menendangnya dan menikamnya, lalu mencekiknya sampai tewas dengan rantai anjing. Mereka kemudian menuangkan garam ke lukanya. Di pengadilan mereka menyatakan bahwa “media telah membuat saya melakukannya”. Teori pembelajaran observasional adalah orang mempelajari perilaku dengan melihatnya dalam kehidupan nyata dalam penggambaran.[3]
Sebagian besar tayangan televisi adalah sinetron dimana terkandung begitu banyak adegan-adegan kekerasan baik fisik maupun mental, bahkan pada sebuah penelitian dikatakan selama masa sekolah, anak-anak menyaksikan 87.000 tindakan kekerasan dalam televisi. Dengan demikian terutama bagi anak-anak yang pada umumnya selalu meniru apa yang mereka lihat, tidak menutup kemungkinan perilaku dan sikap anak tersebut akan mengikuti acara televisi yang ia tonton. Seperti kasus bunuh diri seorang fans Limbad, Heri Setiawan (12) karena melihat tayangan Master Limbad. Ia Ditemukan Tergantung di ranjang tingkat. Limbad dituduh menjadi penyebab kematian penggemarnya itu.  Namun menurutnya, dalam hal ini yang patut disalahkan adalah orang tua. Karena anak terlalu diberi kebebasan dalam memilih tayangan televisi.[4]
Teori kultivasi adalah memusatkan perhatian pada pengaruh media komunikasi khususnya televisi. Apa yang di televisi seolah-olah terlihat nyata. Pada acara televisi, pembantu rumah tangga digambarkan sebagai wanita yang hidup menderita, suka duruh-suruh, lemot. Pejabat pemerintah adalah orang yang munafik dan terkait korupsi. Anak-anak menganggap acara smack down, naruto dengan adegan kekerasan pukul-pukulan, dan sinchan dengan adegan anak yang genit, agresif dan ada unsur seks. Hal ini tentunya mempengaruhi persepsi seseorang terhadap kehidupan.[5]
Teori Peniruan atau imitasi juga sangat berpengaruh karena tayangan kriminal, kekerasan di televisi akan membuat anak-anak mengikuti hal tersebut. perlunya bimbingan orangtua untuk menemani mereka pada setiap mereka berhubungan dengan media termasuk televisi.

C.     Televisi Pendidikan dan Pengajaran

Menurut Bitter, televisi dikenal dengan istilah Televisi Pendidikan (Educational Television) atau ETV dan istila Televisi Pengajaran (Instructional Television) ITV. ETV adalah siaran nonkomersial yang melengkapi acara hiburan di televise, seperti TVRI. Televisi memiliki peran penting dan berfungsi sebagai pengajar, artinya untuk menunjang pengajaran televisi. H:168.TVRI biasanya suka menampilkan acara pelajaran bahasa Inggris, matematika, fisika, kimia. Semua hal yang menyangkut Ujian Akhir Nasional (UAN) dibahas di TVRI serta mengajak siswa prestasi juga untuk ikut andil menjawab soal pada acara pelajaran tersebut.
Sifat televisi adalah bisa didengar dan dilhat , disamping itu juga langsung, intim, dan nyata. Menurut R. Benschofter, pelajar yang bisa diingat melalui media audio visual, setelah tiga hari, bisa 65%, sedangkan  melalui media dengar hanya 10% dan media pandang/visual hanya 20%. Televise menciptakan komunikasi antarpersonal yang mempengaruhi kognitif, afektif dan konasi dari anak-anak (penonton). Wilbur Schramm dan G.C telah banyak meneliti kefektivan televisi bahwa setelah menelaah 421 perbandingan antara pengajaran lewat televise dan pengajaran di sekolah formal, dengan menggunakan berbagai materi pelajaran, terbukti siswi-siswa di semua tingkatan sama-sama dapat belajar dengan baik lewat ekdua metode tersebut. Schramm juga menandaskan tidak diragukan lagi bahwa televise dapat mengajar dan memberi penerangan. [6]

D.    Berinteraksi dengan TV dalam Sikap Pasif

Anak-anak menjadi penonton segala acara di televisi. Menurut Jean Piaget seorang psikolog Prancis, anak-anak muali usia 7-8 tahun akan mulai kritis terhadap lingkungannya. Pada masa ini anak-anak mulai mempertanayakan tentang lingkungan sekitar dan diri mereka sendiri maka hal ini yang membuat kritis anak terhadap acara televisi. Memang ada regulasi pada acara yang bertuliskan BO (Bimbingan Orangtua). Dalam menonton televise, perlu adanya bimbingan orangtua pada setiap acara termasuk acara kartun.
Era globalisasi ini membuat anak mau tidak mau terperangkap dalam banjir informasi dan hiburan. Pola berinteraksi antara anak dan orangtua ketika menonton televise akan menumbuhkan daya kritis anak ketiak mereka mempertanyakan mengenai sesuatu hal yang ada di balik bingkai televisi. Dengan menonton TV bersama orangtua, orangtua mengetahui persepsi dan penilaian anak terhadap adegan yang ditayangkan TV pemahaman anak yang salah bisa di luruskan oleh orangtua. Kesadaran kritis anak dalam menonton TV perlu ditumbuhkan mengingat umur mereka yang rentan terhadap pengaruh dan mudah melakukan peniruan.[7]

E.     Anak Konsumen Televisi

Dunia industri media berkaitan dengan ekonomi politik. Penonton khususnya anak-anak adalah konsumen bagi dunia bisnis industri. Televisi menampilkan iklan yang mendominasi produk anak-anak seperti mainan, makanan (coklat,permen), sandang pangan, obat-obatan sampai kosmetik. Kurangnya memaknai makna perilaku konsumtif membuat anak ingin memiliki apapun, terutama yang diiklankan di televisi. Anak menganggap bahwa manusia harus memiliki barang yang diiklankan.
Peran orangtua sangat penting untuk mengatur hawa nafsu anak-anak mereka dengan memberitahu manfaat atau tidak dari barang yang diiklankan. Namun, anak-anak akan mengeluarkan seluruh upayanya agar dapat restu dari orangtua untuk dibelikan barang tersebut. mereka mulai menangis, merengek, dan berguling-gulingan. Anak-anak meneror orangtua mereka dengan linangan air mata, mata memelas.anak-anak memang belum mampu mengambil keputusan, namun tanpa disadari anak-anak diminta merayu dengan gaya lemah mereka untuk mempengaruhi orangtua agar terbujuk dan akhirnya membeli barang tersebut.[8]
Mosco menyatakan bahwa komodifikasi ada tiga yaitu Komodifikasi isi, komodifikasi khalayak dan komodifikasi pekerja. Salah satu yang akan dibahas adalah komodifikasi khalayak. Komodifikasi ini menjelaskan bagaimana sebenarnya khalayak tidak secara bebas hanya sebagai penikmat dan konsumen dari budaya yang didistribusikan emdia. Tapi juga sebagai komoditi untuk bisa dijual. Hal ini tentunya terkait dengan perusahaan media, pengiklan dan khalayak itu sendiri. Jika acara televise rating tertinggi artinya acara tersebut diminati dan banyak ditonton khalaya begitu juga dengan share dari khalayak.[9] Komodifikasi khalayak ini merupakan proses media menghasilkan khalayak untuk kemudian menyerahkannya kepada pengiklan.[10]




[1]Ade Armadno dkk. 2011. Media dan Integrasi Sosial. Jakarta:Center for The Study of Religion and Culture (CSRC).H.3
[2] Ibid.h :205.
[3]Little John. The Media of Mass Communication.  2008.(dialihbahasakan oleh Tri Wibowo B.S dengan judul Teori Komunikasi Massa). Edisi Kedelapan. Jakarta: Kencana. H:485.
[6]Deddy Mulyana&Idi Subandy Ibrahim. 1997. Bercinta dengan Televisi : Merindukan Televisi Pengajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. H:167-173.
[7] Ibid. h:176-178.
[8] Ibid. h:185-188.
[9] Rulli Nasrullah. 2012. Komunikasi Antarbudata Di Era Budaya Siber.  Jakarta: Kencana. H;169.
[10] Ika Lestari. 2009. Pemaknaan Komodifikasi Anak-Anak Di Televisi. Thesis : Jurnal Penelitian Ilmu Komunikasi. Volume VIII/No.2. h: 265. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar