Judul
artikel jurnal :
FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI JENIS MEDIASI ORANGTUA UNTUK TELEVISI : Studi Terhadap
Orangtua Murid Empat Sekolah Unggulan Di Wilayah Jabotabek
Peneliti : Inaya Rakhmani
Abstrak
Televisi memperoleh banyak kritik dari berbagai pihak. Menurut
Brown, televisi memiliki penurunan standar budaya, memanipulasi perilaku
politik dan sosial, dan mendukung konformitas.Untuk dapat menarik manfaat dan
nilai isi televisi, dibutuhkan orang yang berpikir kritis. Anak-anak yang
menonton acara di televisi tidak bisa memfilterasi isi acara apakah baik atau
buruk, negatif atau positif. Perlunya kerjasama orangtua terhadap program acara
televisi ini terutama untuk anak-anak. Mereka harus mendapatkan “pendidikan
media” agar dapat membuat keputusan seperti apa program acara untuk anak-anak
mereka.Kenyataannya, persaingan industri televise membuat pihak produksi siaran
televise tidak memperhatikan lagi nilai positif dan manfaat acara yang
disiarkan untuk anak-anak, melainkan untuk mendapatkan keuntungan iklan
sebanyak-banyaknya. Untuk mencegah efek negative media massa khususnya televise
diperlukan penelitian parental mediation
atau mediasi orangtua. Mediasi menyediakan pilihan bagi orangtua untuk
menangani bagaimana anaknya berpikir dan berperilaku dari menonton televise.
Orangtua sebagai mediator isi televisi perlu memiliki pengetahuan dan kemampuan
berpikir kritis sebagai bekal memediasi isi televisi dan ikut melindungi anak
dari potensi efek televisi yang tidak mendukung sosialisasi yang diinginkan oleh
orangtua.disini ingin melihat lebih jauh lagi seberapa kuat perbedaan ini
mempengaruhi orangtua dalam memilih jenis mediasi. Variabel pertama adalah
tingkat pendidikan formal orangtua : apakah benar pendidikan formal
mempengaruhi pilihan jenis mediasi sebagaimana penelitian terdahulu di tempat
yang berbeda. Yang kedua adalah apakah melek media sebagai studi yang baru
muncul di negara-negara maju juga merupakan faktor yang berpengaruh. Yang
ketiga, adalah apakah sikap orangtua terhadap televise yang dalam
penelitian-penelitian di negara maju merupakan faktor yang hamper selalu
mempengaruhi mediasi orangtua merupakan faktor yang berpengaruh bagi orangtua
di Indonesia.
1. Kerangka
Pemikiran
A. Mediasi
Orangtua (Parental Mediation)
Pengertian orangtua secara luas adalah orangtua
yang mencakup ibu atau ayah, orangtua tiri, orangtua angkat, kakek nenek.
Parenting disini maksudnya orangtua tunggal maupun berpasangan. Mediasi sebagai
interaksi dengan anak mengenai televisi. Mediasi orangtua adalah semua kegiatan
interaksi orangtua dengan anak mengenai televise. Mediasi orangtua menurut Amy
Nathanson yaitu;
1. Mediasi
aktif, terdiri dari aktif negative (percakapan dalam konteks negatif), arti
positif yaitu orangtua memberikan komentar positif mengenai apa yang ditonton
anak ditelevisi. Aktif netral melibatkan penyediaan informasi atau intruksi
bagi anak mengenai isi televise.
2. Mediasi
restriktif, peraturan yang ditentukan orangtua mengenai pola anak menonton.
3. Coviewing,
orangtua dan anak bersama menyaksikan acara televise.
B. Pendidikan
Formal
Menurut Australian National Training
Authority (ANTA), pendidikan terbagi menjadi tiga jenis. Pertama, pendidikan
formal merupakan pelatihan dari institusi pendidikan seperti sekolah. Kedua, pendidikan
informal yaitu pendidikan ini diperoleh dari pengalaman, membaca, dan interaksi
sosial. Ketiga, pendidikan nonformal yaitu pendidikan terorganisasi dan
pelatihan diluar sistem pendidikan formal.
C. Melek
Media (Media Literacy)
Melek media adalah kemampuan mengakses,
menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan media dalam berbagai bentuk.
Menurut Silverblatt, melek media menekankan diri pada beberapa elemen sebagai
berikut:
1. Media
telah membentuk cara kita berpikir akan ‘kita’ satu sama lain, dan dunia kita.
2. Melek
media memberikan pemahaman terhadap proses komunikasi massa melibatkan
produksi, transmisi, dan konteks interprestasinya.
3. Pengembangan
strategi untuk menganalisis dan mendiskusikan pesan media.
4. Kesadaran
isi media, bahwa film, iklan, kuis, dan komedi situasi membentuk perilaku, nilai,
sikap, pola piker, dan mitos yang membentuk budaya.
5. Presentasi
media yang baik dapat memberikan banyak manfaat bagi khalayak.
D. Sikap
Orangtua Terhadap Televisi
Beberapa sarjana menganggap sikap terdiri dari
komponen kognitif, afektif, dan behavioral. Sebuah penelitian di China bahwa
para orang tua di China memiliki sikap yang negative terhadap iklan. Sikap
negative mereka ini mengarah ke mediasi restriktif dengan melarang anak-anak
menonton acara seksual dan kekerasan, membimbing mereka untuk menonton acara
yang mendidik.
2. Metodologi
A. Pendekatan
Pendekatan penelitian kuantitatif, bertujuan
menentukan hubungan antara satu hal dengan hal lain dalam bentuk angka dari
sebuah populasi.
B. Populasi
dan Sampel Penelitian
Populasi yang akan diteliti adalah orangtua yang
berada di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi, mempunyai anak berusia
6-8 tahun, mempunyai pesawat TV dan menonton acaranya.
Operasional Konsep
a) Pendidikan
formal, indikatornya yaitu lulus SD, lulus SMP, lulus SMA, lulus D1-D3, lulus
S1-S2, dan lulus S3.
b) Melek
media, indikatornya yaitu memahami dampak media massa; memahami proses
komunikasi massa; mampu menganalisis pesan media; menyadari bahwa televise
berkontribusi pada budaya kontemporer; dan menyadari bahwa TV bisa
dimanfaatkan.
c) Sikap
orangtua terhadap TV, kategorinya yaitu kognisi, afeksi, dan konasi.
d) Pilihan
jenis mediasi orangtua kategorinya yaitu mediasi resteriktif dan mediasi non
resteriktif; mediasi aktif dan mediasi non restriktif.
3. Metode
pengumpulan Data
Penelitian
mengumpulkan data dengan metode survey dengan cara responden diminta mengisi
sendiri kuesioner sehingga bebas mengekspresikan pendapat tanpa takut diketahui
orang lain.
A. Metode
Analisis Data
·
Analisis Univariat
Menggambarkan hasil
penelitian yang berkaitan dengan bagaimana tingkat pendidikan formal, tingkat
melek media, dan sikap orangtua terhadap televise mempengaruhi pilihan jenis
mediasi orangtua.
·
Reliabilitas dan Validitas
Untuk uji validitas
menggunakan analisis faktor. Analisis faktor memiliki dua fungsi yaitu
eksplorasi dan eksplanasi. Fungsi pertama bertujuan mengetahui apakah variabel
independen berpengaruh terhadap variable dependen. Fungsi kedua untuk melihat
seberapa kuat variabel independen berpengaruh kepada variabel dependen.
B. Manova
dan Regresi sederhana
Tujuan manova yakni mengetahui apakah ada perbedaan
yang nyata pada variabel-variabel dependen antaranggota variabel independen.
Setelah uji manova, uji regresi metode yang digunakan adalah analisis
multivariate simple regression yaitu analisis multivariat yang menganalisis
satu atau dua variabel secara bersamaan bertujuan melihat variabel independen
mana yang paling besar pengaruhnya terhadap variabel dependen.
C. Pengaruh
Tingkat pendidikan Formal Orangtua Terhadap Kemungkinannya Memilih Jenis
Mediasi Tertentu.
Ternyata tingkat pendidikan formal orangtua tidak
berpengaruh terhadap kemungkinan orangtua memilih jenis mediasi tertentu. Hasil
penelitian dari Valkenburg mengusulkan bahwa tingkat pendidikan orangtua
berpengaruh terhadap pilihan mediasi yakni, mediasi coviewing. Penelitian Chan
dan McNeal membuktikan bahwa orangtua dengan tingkat pendidikan tinggi lebih
jarang menonton televisi bersama anak dan lebih jarang pula melakukan mediasi
atas isis televisi. Orangtua tingkat pendidikan tinggi berpikir bahwa mereka
bisa mempengaruhi perilaku anak terhadap televisi lebih besar disbanding
orangtua dengan latarbelakang lain. Peneliti Patti Valkenburg menyatakan bahwa
mediasi aktif dilakukan oleh orangtua, maka penelitian ini membuktikan bahwa
pilihan jenis mediasi orangtua tidak ditentukan. Pendidikan formal orangtua
tidak mempengaruhi jenis mediasinya karena faktor baru yaitu lamanya orangtua
bekerja atau profesi orangtua, yang barangkali turut mempengaruhi pilihan
mediasi akibat tidak bisa di rumah untuk memediasi televisi.
D. Pengaruh
Tingkat Melek Media Orangtua terhadap Kemungkinannya Memilih Jenis Mediasi
Tertentu
Menurut
Stephen Kline dan Nathanson tindakan orangtua yang kritis dan tahu kapan harus
berkomentar positif dan kapan berkomentar negative ketika menonton bersama
anaknya termasuk kategori mediasi aktif. Semakin rendah tingkat melek media
orangtua, maka semakin tinggi kemungkinan memilih jenis mediasi coviewing.
E. Pengaruh
Sikap Orangtua Terhadap Kemungkinannya Memilih Jenis Mediasi Tertentu.
Temuan membuktikan bahwa semakin positif sikap
orangtua terhadap televisi, maka semakin tinggi kemungkinannya memilih mediasi
aktif. Analisis penulis menyatakan bahwa sikap positif orangtua terhadap
televisi yang membuat orangtua butuh menyuarakan pendapat mereka jika
berhubungan dengan pujian, dukungan, komentar positif. Seharusnya orangtua yang
memiliki sikap negatiflah yang paling besar berkemungkinan memediasi efek
televise. Tapi orangtua Jabotabek hanya menggunakan mediasi jika mereka
bersikap positif terhadap televisi. Warren memasukkan tiga variabel, yaitu
karakteristik demografis orangtua, sikap orangtua terhadap televisi, dan
frekuensi orangtua menonton televisi. Tingkat pendidikan formal orangtua,
tingkat melek, media orangtua, dan sikap oangtua terhadap televisi, sikap
orangtua terhadap televisilah yang memiliki pengaruh paling kuat terhadap
mediasi orangtua, yaitu jenis aktif.
F. Kesimpulan
A. Pengaruh
Tingkat Pendidikan Formal Orangtua terhadap Pilihan Jenis Mediasi
Dari
hasil penelitian in bahwa tingkat pendidikan formal orangtua tidak mempengaruhi
jenis mediasi mereka.
B. Pengaruh
Tingkat Melek Media Orangtua Terhadap Pilihan Jenis Mediasi
Tingkat
melek media orangtua mempengaruhi pilihan mediasi mereka, hanya saja bukan
mediasi aktif, tapi mediasi coviewing.
Semakin rendah tingkat melek media orangtua, semakin tinggi kemungkinannya
memilih mediasi coviewing.
C. Pengaruh
Sikap Orangtua terhadap Televisi Pilihan Jenis Mediasi
Sikap orangtua
terhadap televisi mempengaruhi kemungkinan mereka memilih mediasi aktif.
Analisis Jurnal
Komunikasi massa adalah komunikator
menyampaikan pesan kepada komunikan melalui media cetak (suratkabar), media
elektronik (televisi dan radio), dan media baru. Dalam sebuah penelitian pusat
kajian komunikasi Universitas Indonesia program acara pesan yang disampaikan di
acara televisi mengandung beberapa unsur yaitu : unsur kekerasan, unsur sex,
unsur budaya, unsur pendidikan, unsur motivasi, unsur inspirasi, unsur jender,
unsure stereotip, unsur moral, dan unsur tone positif. Sebesar 37,50% dan
11,30% jumlah keseluruhan dari program acara di 10 Stasiun Televisi Swasta
Nasiona mengandung unsur kekerasan dan seks.
Beberapa acara kartun seperti Tom and Jerry dan Naruto mengandung unsur kekerasan dan seks untuk acara kartun Sinchan. Acara anak-anak perlu dipilah
oleh orangtua. Dalam hal ini untuk pemilik produksi stasiun diharapkan bahwa
setiap acara anak-anak iklan yang ditampilkan adalah iklan anak-anak bukan
iklan kecantikan untuk orang dewasa. Hal ini perlu mengingat anak-anak yang
menonton televisi sedikit banyak akan terpengaruh terhadap apa yang disajikan
televisi tersebut.
Adanya komunikasi persuasif
(pendekatan) antara oranguta dan anak. Orangtua juga harus teliti dan
mendampingi ketika anak-anak mereka menonton televisi. Anak yang menonton
televisi maka akan bersikap reseptif yaitu mencoba mengerti dan belajar dari
suara dan situasi yang ia lihat dan dialaminya termasuk dalam program acara.
Orangtua bisa bertindak dengan pendekatana psikologi komunikasi kognitif yakni bagaimana individu memperoleh, menyimpan dan mengolah
informasi yang akan menghasilkan
perilaku dan tindakan.
Orangtua
bertindak langsung terhadap tim kreatif, sutradara dan produser dan memutuskan
acara apa yang cocok untuk perkembangan anak baik dalam hal kognitif, afeksi
dan konasinya. Pelatihan orangutan terhadap program acara anak juga penting
demi kepentingan generasi masa depan anak. Anak yang sering melihat acara
dewasa seperti sinetron remaja, lagu dewasa, dan tindakan kekerasan yang
dilakukan acara komedi dan kartun akan berpengaruh pada konasi anak.televisi
berdampak besar dalam hal meniru. Program acara anak bisa juga mengandung
karakteristik komuniaksi Islam yaitu qaulan sadida, baligha, ma’rufa, karima,d
an layina.
Televisi
juga memiliki faktor sosiopsikologis yang mengatur tingkah laku manusia dalam
halam kognitif, afeksi, dan konatif. Setiap acara yang ditonton masing-masing
anak akan menimbulkan persepsi berbeda terhadap alur cerita dan pesan yang
disajikan. Namun, perlu diperhatikan dalam hal sifat aktor di industri media
yaitu costliness, complexity, dan competitiveness. Industri media pada
kenyataannya memang lebih mengedepankan hal komersil dan bisnis, ketika acara
tersebut banyak ditonton dan rating tinggi maka pemasok iklan juga banyak. Hal
ini tentunya tanpa memperhatikan apakah acara tersebut mengandung unsur negatif
atau tidak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar